Oleh
: Renny Widyanti
Gemuruh
suasana ibu kota nan padat dengan asap sisa hasil pembakaran mesin kendaraan
menjadi suatu kondisi yang khas. Cuac panas yang terasa sangat pekat menerobos
kulitku. Aspal jalan raya seperti sudah menjadi tumpuan tetap ku.
“Eh … datang tuh datang
!! “ teriak seorang temanku ketika melihat sebuah bus pengangkut bahan bakar
dari kejauhan. Kami segera bersiap menunggu bus itu melintas di depan kami, dan
saat tiba waktunya, satu persatu dari kami bergantian mengambil sisa minyak
yang ada didalam tabung raksasa itu.
Lelah
kakiku berlari mengejar kendaraan yang menggantungkan nasib hidupku. Hampir
setiap hari aku dan beberapa temanku melakukan “pekerjaan” seperti itu dari
mulai siang hari sampai petang hari.
“Udah dapet berapa hari
ini ru?”
“Baru satu botol ini saja…lu”
“Setengah botol,
hem…dapet berapa kalo Cuma segini ?”
“ Ya gak tau deh, si
bos kan suak ngasih harga semaunya”
“Yah…bisa gak makan deh
hari ini”
Perbincangan pendek itu
menjadi topik rutin yang kami bicarakan setiap harinya. Serasnya hidup di
ibukota membuat kami harus memutar otak untuk kelangsungan hidup diriku beserta
keluarga. Lapangan kerja yang sangat minim menambah kemelut orang sepertiku.
Matahari yang mulai terbenam menandakan berakhirnya pekerjaanku untuk hari ini.
Botol-botol plastik air mineral ukuran 1,5 liter yang berisi minyak bahan bakar
kami bawa kepengepul untuk disetorkan dan ditukan dengan uang.
“Ini bang..” ucapku
sambil menyodorkan sebotol minyak hasil usahaku.
“Ya, bagus Heru. Tapi
kenapa jadi lebih sedikit dibanding dengan hari kemarin.” Tanya bang Togar
dengan bahasa bataknya.
“Lagi cape bang,”
jawabku singkat
“Alah kau ini… buanglah
rasa cape kau itu. Dengar, sekarang-sekarang ini banyak orang yang sedang membicarakan tentang
BBM” ujar bang Togar dengan wajah seriusnya.
“Terus kenapa bang?”
sahutku bertanya-tanya.
“Kau ini… aku belum
selesai bicara” sambung bang Togar dengan nada sedikit meninggi.
“Oh iya bang hehe,
maaf…” jawabku takut melihat ekspresi bang Togar.
Dengan seksama aku
mendengarkan cerita bang Togar tentang BBM yang kini menjadi primadona
masyarakat Indonesia, mulai dari kalangan masyarakat biasa sampai dengan
kalangan pejabat. Harganya yang diisukan akan naik membuat mereka kebakaran jenggot
mendengarnya.
“Maka dari itu ru,
sebelum BBM berubah menjadi berlian kau harus memperbanyak hasilmu itu”
Perkataan bang Togar
yang cukup memotivasiku untuk tidak bermalas-malasan dalam bekerja.
Suara langkah kaki Ibu yang sedari tadi lalu lalang
membangunkanku. Ketika ku membuka mata, aku dapati Ibu yang sedang melakukan
aktivitas paginya, yaitu menyiapkan segala keperluan keluargaku di pagi hari.
“Udah bangun toh le…”
ucap Ibu ketika melihat aku terbangun dari tidurku
“Iya bu…” jawabku
singkat.
Tak berapa lam kemudian
aku bangun dan membantu Ibu, sosok wanita super yang pernah ada dalam hidupku.
Sejak kecil hanya Ibu yang mengasuh dan membesarkanku dan kedua adikku dari
kecil. Tak pernah aku mengenal sosok seorang Bapak dalam hidupku. Setiap aku
menanyakan tentangnya, Ibu tidak pernah menjawabnya dan selalu mengalihkan
pembicaraan.
“Hari ini kamu tidak
usah kerja dulu ya ru” ucap Ibu tiba-tiba.
“Kenapa bu?” tanyaku
bingung
“Hari ini akan ada demo
besar-besaran, bahaya kalau kamu tetap memaksakan diri untuk bekerja” jawab Ibu
dengan nada khasnya.
“Tapi bu, justru kata
bang Togar harus bekerja lebih giat lagi sebelum nilai BBM seperti berlian”
perjelasku meyakinkan Ibu.
Ibu hanya terdiam
mendengar penjelasanku. Ibu khawatir jika nanti akan terjadi hal-hal yang buruk
padaku. Namun, apa daya kini akulah tulang punggung keluarga. Aku tidak akan
membiarkan Ibu bekerja keras untuk menghidupi kami bertiga.
Suasana yang tidak biasa jelas terlihat hari ini. Tidak
terlihat teman-temanku yang biasanya sudah memarkirkan diri ditrotoar jalan
Plumpang, tapi justru banyak komplotan polisi yang memajangkan diri mereka.
Ketika aku hendak menuju ke bawah pohon dibelakang halte, seseorang
memanggilku. Aku mencari sumber suara yang sedari tadi memanggilku dengan suara
bisik-bisik. Dari kejauhan aku melihat teman-temanku yang mengumpat dibalik
bangunan tua yang sudah lama tak dihuni. Ketika aku hendak menuju kesana,
beberapa petugas polisi itu berjalan kearahku.
“Hey kamu pencuri
minyak!” teriak salah satu petugas aparat tersebut kepadaku.
Mendengar ucapannya,
sontak membuatku kesal. Kubalikkan badanku kearah mereka. Ku berdiam diri, fokus
melihat si sumber suara.
“Kemana teman-teman
pencurimu? Apakah mereka sudah tahu akan kedatangan kami?” ujar polisi yang
lain.
Aku hanya berdiam kesal
mendengar mereka menjelek-jelekkan aku dan teman-temanku. Satu persatu dari
mereka terus-menerus mengeluarkan kalimat-kalimat yang memojokkan kearah
kriminal. Kesabaranku sampailah pada puncaknya, rasa kesalku meluap-luap kepada
beberapa orang yang disebut-sebut sebagai pengayom masyarakat.
“Kami bukan pencuri!!”
ucapku tegas membalas perkataan mereka yang sedari tadi banyak bicara.
“Oh… bukan pencuri?
Lalu apa? Kau dan teman-temanmu sudah jelas mengambil minyak dari tangki
kendaraan itu. Apa namanya kalau bukan pencuri?” jawab salah satu polisi dengan
nada tinggi.
“Kami hanya mengambil
sisa minyak itu. Hanya sisa!!” sambungku dengan kesal.
“Jadi masih membantah?”
ucap salah satu polisi yang sedari tadi hanya berdiam diri melihat perbincangan
sengit kami.
Sebuah pukulan
bersarang diperutku yang membuatku meringkuk kesakitan. Melihat hal tersebut,
teman-temanku yang sejak tadi hanya berada dipersembunyiannya satu persatu
mulai keluar untuk membelaku.
Bentrok antara polisi dengan teman-teman seperjuanganku
tak terhelak lagi. Luka yang awalnya hanya aku derita kini teman-temanku jga
merasakannya. Awal niat kami untuk meneruskan hidup dengan cara seperti itu
disalah artikan oleh aparat kepolisian. Sejak saat itu tak ada lagi “anak
tangki minyak” yang setiap hari mengejar tangki kendaraan BBM.