Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Friday, August 12, 2016

Pagelaran Budaya Dan Festival Di Atas Awan




Majalahinspirasi.net - Salah festival yang direkomendasi oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya adalah Dieng Culture Festival (DCF) 2016 pada 5-7 Agustus. Segudang sajian menarik ditampilkan dari penampilan Cak Nun dengan Kyai Kanjeng, pesta kembang api, hingga jamasan, pencukuran rambut dan pelarungan rambut anak gimbal khas Dieng, hingga Jazz Atas Awan. “Ada perpaduan seni tradisi, budaya dan musik modern yang membuat festival ini lebih berkelas. Anak muda masuk, orang paruh baya pun juga masuk. Ada wayang, juga pentas Lengger yang khas daratan tinggi Dieng yang memiliki ketinggian kisaran 2000 meter dari permukaan laut," ungkap Hari Untoro Drajad, Staf Ahli Menpar Bidang Multikultural dalam kutipan tempo.
Acara tahunan ini cukup banyak menarik wisatawan untuk datang dan menikmati beberapa berbagai kesenian dan kebudayaan asal Dieng, pada kali ke-7 DCF 2016 ini tebesar yang pernah di selenggarakan dari tahun-tahun sebelumnya. “Acaranya sukses besar. Kalau dihitung semua wisatawan yang datang sekaligus menikmati wisata sekitar 90.000-an wisatawan. Tiket habis. Penginapan penuh semua. DCF memberi berkah besar bagi warga sekitar Dieng,” ujar Ketua Paguyuban Wisata Dieng Pandawa, yang juga Ketua DCF VII, Alif Fauzi, Minggu 7 Agustus 2016. Dari paparan Alif, Jazz Di Atas Awan dan pemotongan rambut anak gembel menyedot perhatian paling besar dari wisatawan. Area khusus yang disiapkan di depan Candi Arjuna penuh sesak oleh lautan manusia. Nyaris tak ada tempat kosong saat DCF berlangsung.


“Kami sudah menyediakan 4.000 tempat khusus. Itu full semua. Di luar itu lebih banyak lagi. Ini DCF paling heboh,” katanya. Minggu sore 7 Agustus 2016, prosesi pemotongan rambut anak gembel memang menyedot perhatian yang sangat besar. Puluhan ribu wisatawan dari berbagai daerah maupun mancanegara berbaur dengan wisatawan lokal. Semua setia mengikuti prosesi ruwatan yang diikuti 11 anak berambut gimbal itu. Dari mulai kirab budaya dari rumah tetua adat Dieng, Mbah Naryono, hingga prosesi perjalanan menuju kompleks Candi Arjuna, semuanya selalu dikawal puluhan ribu wisatawan.
Acara makin terasa meriah setelah di area parkir kompleks Candi Arjuna, 11 anak berambut gimbal itu disambut sejumlah pemimpin daerah. Dari mulai Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet, Wakil Bupati Banjarnegara Hadi Supeno, dan tamu undangan lainnya, terlihat hadir di prosesi sakral tadi.
Adinda Wijayanty Putry (4), putri pasangan Mahfudz dan Linda Susanti, mendapat giliran pertama untuk dipotong rambut gimbalnya. Warga Kota Depok, Jawa Barat itu minta rambutnya dipotong langsung oleh Mbah Naryono.
"Pencukuran rambut gimbal harus melalui suatu ruwatan. Tidak boleh sembarangan dicukur. Kalau sembarangan, rambut gimbal itu tumbuh kembali. Bahkan akan semakin menggimbal. Sangat sakral. Ini menjadi daya tarik tersendiri,” katanya. Melihat potensi tadi, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo langsung mengambil ancang-ancang untuk membenahi Kawasan Wisata Dataran Tinggi (KWDT) Dieng di Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah. (AFM)  
Sumber : tempo & viva

Tuesday, February 24, 2015

Pameran Aku Diponegoro “ Sang Pangeran Dalam Ingatan Bangsa “


Belajar dan mengenal sejarah bangsa ini dengan metode bisa seperti mendengarkan guru berserita di depan kelas merupakan hal yang sangat konvensional dan banyak murid yang tidak menyukai sejarah karena cara pengajarannya tersebut. Saat ini untuk belajar sejarah bukan hanya dengan cara-cara lama seperti disekolah dan sejarah bukan hanya dapat dipelajari di sekolah. Saat ini banyak sekali intasi pendidikan sejarah dan seni yang mengadakan pameran – pameraan sebagai ajang memperkenalkan sejarah Indonesia kepada generasi-generasi muda.

Seperti yang dilakukan oleh teman-teman dari Goethe Institut Indonesia yang membuat pameran yang membangkitkan kembali ingatan kita akan sosok Pangeran Diponegoro. Pameran ini mengusung tema “Aku Diponegoro : Sang pangeran dalam Ingatan Bangsa dari Raden Saleh hingga Kini ”. Pameran ini digelar mulai tanggal 6 February – 8 Maret 2015 di Galeri Nasional Indonesia. Selama ini Sebagian besar masyarakat Indonesia mengenang Pangeran Diponegoro sebagai pahlawan perjuangan awal abad kedelapan belas yang memimpin perlawanan Jawa terhadap Belanda dalam pertarungan yang dikenal sebagai Perang Diponegoro (1825-1830). Selain dari itu, mungkin banyak juga yang mengenali figur Diponegoro dari lukisan-lukisan yang terpampang di ruang-ruang kelas seluruh pelosok Indonesia.


Pameran ini bertujuan untuk menarik generasi-generasi muda untuk tau sebagian kecil dari perjalan panjang bangsa ini “ Kita itu jangan hanya tahu super hero yang terkenal jaman sekarang kami ingin menunjukan bahwakita itu memiliki pejuang yang bernama pangeran diponegoro dengan beitu generasi-genari Indonesia semakin cinta dengan bangsanya karena bangsa ini memiliki sejarah yang luarbiasa “ tutur Derina koordinator Volunteer.

Pameran Aku Diponegoro ini memamerkan kurang lebih 120 Lukisan dan artefak. Terdapat 5 lokisan penting karya Raden Saleh, Basuki Abdulah, Sujono Abdullah dan Sujoyono yang dipinjam dari Istana Negara. Lukisan –lukisan yang lain didapatkan dari koleksipara pelukis . Animo dari masyarakat sendiri sangat luarbiasa Seperti penuturan Derina “ saya sangat senang karena animo masyarakat akan acara ini luarbiasa untuk weekdays kiasaran visitornya mencapai 300 – 600 orang dan itu lebih ramai jika menjelang weekend “.Semoga akan banyak acara-acara seperti ini sebagai metode belajar yang menarik dan menyenangkan.(Meyra Sugandi)

Monday, October 20, 2014

Gerakan Entong Gendut

Berbagai gerakan yang pernah hadir di Indonesia selalu didasari oleh kesukuan, religi, dan status sosial karena terjadinya suatu komunitas atau gerakan tak bisa tanpa adanya sikap etnosentrisme itu sendiri. Terlebih lagi adanya suatu sikap yang memberi pengaruh buruk dalam kehidupanya, seperti gerakan-gerakan yang didasari oleh kenyataan kehidupannya yang mengalami suatu kemunduran. Ada pula gerakan atau organisasi yang berusaha untuk keluar dari belenggu tersebut menuju suatu yang damai sejahtera. Pada masa kolonial Belanda banyak terjadi pemberontakan atas kesewenang-wenangan tuan tanah dan juga pemerintah kolonial. Tepatnya di daerah Pasar Rebo, Jakarta Timur, muncul suatu gerakan yang disebut dengan nama Gerakan Entong Gendut.

Jejak Rekam Sang Jawara Condet
Dalam sejarah ada banyak jawara Betawi yang terkenal sampai saat ini seperti Pitung, Jampang, Piih, Sabeni, atau Wan Kadir. Dari deretan nama-nama tersebut terselip satu tokoh dalam perjuangannya melawan pemerintahan kolonial, H. Entong Gendut. Mungkin jarang kita dengar, namun kisah heroiknya patut kita teladani dan mengingatkan bahwa DKI Jakarta begitu banyak menyimpan sejarah dan tokoh penting dalam gerakan pemberontakan. Berbeda dengan jawara-jawara Betawi lainnya, H. Entong Gendut benar-benar mengonsep sebuah gerakan pemuda di Condet yang cukup apik karena selain jawara ia juga adalah seorang haji.

Panggung sejarah mulai merekam aksi Entong Gendut pada tahun 1912, yaitu saat Landrad di Mesteer Cornelis (sekarang pasar Jatinegara) memberlakukan peraturan yang berkaitan dengan keagrariaan yang pada zaman itu lebih dikenal dengan istilah Tuan Tanah. Maka Jaan Ameen Tuan Tanah untuk sub distrik Pasar Rebo yang kerap melayangkan pengaduan ke Landrad perihal tunggakan upeti hasil bumi penduduk Condet dinilai terlalu manja.

Pengaduan itu berakibat disitanya rumah-rumah dan tanah-tanah penduduk Condet, bahkan tak sedikit rumah penduduk yang dibakar. Aksi sewenang-wenang ini semakin merajalela. Penduduk mulai marah. Gubernemen menjatuhkan sanski pada seorang penduduk  Condet yaitu seorang petani bernama Taba untuk membayar uang kepada tuan tanah sebesar 7.20 gulden pada bulan Maret 1916. Aparatur hukum kolonial memberikan peringatan pada Taba, agar patuh pada putusan tersebut jika tidak ingin harta benda miliknya disita pengadilan.  untuk membayar denda sejumlah 7.20 Gulden atau kalau tidak pihak Gubernemen akan menyita semua miliknya.

Kondisi obyektif demikian memunculkan banyak reaksi dari kalangan rakyat terhadap penindasan sistem kolonial. Tentu saja reaksi yang banyak muncul dari rakyat berupa amarah, kebencian, bahkan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan kolonial dan tuan tanah. Salah satu reaksi yang bernuansa kemarahan hingga akhirnya termanifestasi dalam suatu perlawanan ialah reaksi yang ditampilkan oleh Entong Gendut. Beliau adalah seorang tokoh pendekar yang juga kesohor dengan nama Haji Entong Gendut. Ia memobilisasi warga Condet yang merasakan kebencian serupa terhadap kolonialisme untuk melakukan perlawanan secara terbuka.

Perlawanan frontal dari Entong Gendut dan kawan-kawan terjadi pada 5 April 1916 di depan Villa Nova, milik seorang tuan tanah Eropa yang bernama Lady Rollinson. Lady Rollinson adalah seorang Eropa yang memiliki tanah dengan areal sangat luas di daerah Cililitan. Pada saat itu, kelompok Entong Gendut melempari mobil milik tuan tanah dari Tanjung Oost  bernama Jaan Ament yang sedang berkunjung ke rumah Lady Rollinson sebagai tamu undangan dalam pesta yang diselenggarakan sang Lady.

Tak hanya sampai di situ, menjelang malam hari ketika pesta di villa Lady mencapai ‘klimaks’ nya, kelompok Entong Gendut membuat sabotase dan kerusuhan yang menyebabkan pesta tersebut berhenti. Peristiwa ini membuat nama Entong Gendut masuk daftar hitam perburuan aparat keamanan Belanda di Batavia.

Operasi Penangkapan H. Entong Gendut
Masih di bulan April 1916, Pemerintahan Hindia Belanda murka sebab ada perubahan sikap sosial yang dirasakan mereka terutama penentangan yang dilakukan penduduk terhadap segala kebijakan Belanda karena selama ini penduduk begitu patuh terhadap terhadap segala kebijakan yang telah diatur pemerintah Belanda, tapi sekarang berubah menjadi pemberontakan. Pihak Belanda akhirnya berfikir bahwa tentu ada sebabnya dari kejadian tentunya ada yang sengaja menggiring dan memobilisasi masyarakat untuk menentang pemerintah. Entong Gendut adalah biang keladi dari semuanya.

Berbagai upaya yang dilakukan pihak pemerintah kolonial untuk menangkap Entong Gendut pun dilakukan. Hingga akhirnya, Wedana dari Meester Cornelis dan pasukan polisi Belanda berhasil mengepung rumah Entong Gendut di daerah Batuampar pada pertengahan bulan April 1916. Entong Gendut  menghadapi Wedana dan pasukannya dengan membawa tombak, keris dan bendera merah berlambang bulan sabit putih.
Ketika Wedana akan menangkap dengan paksa Entong Gendut berteriak memberi aba-aba . “Sabilullah…, sabilullah…!” pasukannya mengamini. Pertempuran tak dapat dihindarkan. Karena teriakan itu keluar pengikut-pengikutnya dari tempat persembunyian dikebun salak yang terdapat di sekitar rumah Entong Gendut. Mereka semuanya bersenjata, jumlahnya kurang lebih 200 orang. Rombongan Wedana dan polisi kampung dikepung. Karena terancam rombongan Wedana dan polisi itu bubar menyelamatkan diri dan bersembunyi. Wedana yang bersembunyi akhirnya tertangkap dan ditawan oleh Entong Gendut.
Maka, sepandai pandai tupai melompat pasti jatuh juga. Setiap ada kekuatan pasti ada kelemahan.

 Dua kalimat ini berkaitan dengan Entong Gendut, mengandung makna pasrah menerima kekalahan atas kebatilan walau kadang sedang berdiri di posisi yang benar. Tega-teganya para spionase busuk dari kalangan pribumi itu membocorkan informasi gerakan bawah tanah yang sedang diprakarsai warga Condet demi kemerdekaan daerah dan bangsanya sendiri. Padahal Belanda hanya mengupahnya dengan uang yang jumlahnya tak seberapa. Lewat sebuah insiden di anak sungai Ciliwung, kampung Balekambang, para marsose yang telah menemukan kelemahan Entong Gendut itupun mengakhiri sepak terjang pahlawan Condet untuk selama-lamanya.

Wafatnya Entong Gendut
Dalam kisahnya ada dua kisah yang menyebutkan bahwa H. Entong Gendut meninggal dalam perjalanan karena pada saat itu ia berada pada barisan depan dan tertembak Wedana Pasar Rebo dan pembesar-pembesar polisi  perlawanan pada hari senin tanggal 10 April dini hari. Versi kedua berita tewasnya Entong Gendut adalah  ia meninggal ditembak di sungai Ciliwung Condet pada saat mengejar pasukan kolonial karena mendapatkan bocoran informasi dari pengkhianat bangsa kepada pihak Belanda bahwa Entong Gendut hanya bisa dibunuh saat berada di dalam sungai. Hari itu keberuntungan tidak sedang berpihak pada Entong Gendut. Dan pada hari itu Entong Gendut harus tewas diberondong oleh peluru-peluru laknat marsose.

Berita tewasnya Entong Gendut dengan cepat tersiar di seluruh kampung. Seluruh warga Kramat Jati, khususnya kampung Condet berkabung atas wafatnya pahlawan kebanggaan mereka. Suasana duka mendalam menyelimuti Condet. Sebaliknya, pihak Belanda dan gubernemen bersorak sorai kegirangan karena telah membunuh provokator yang selama ini sulit untuk ditangkap. Di landrad-landrad, dentingan “toast” gelas para pejabat militer Belanda mewarnai suasana perayaan kesuksesan penumpasan Entong Gendut. Akan tetapi, di luar sana sebuah peristiwa fenomenal telah terjadi. Ketika jenazah Entong Gendut yang terbungkus tikar diusung warga dengan pengawalan ketat para marsose, lalu jenazah itu diletakkan di suatu tempat. Ada beberapa versi yang menjelaskan tempat tersebut. Sebuah sumber mengatakan, tempat itu adalah rumah Entong Gendut. Sumber lain menyebutkan tempat itu semacam hospital atau klinik.

Namun terlepas dari berbagai versi itu, jenazah Entong Gendut tiba-tiba hilang secara misterius. Para marsose berikut penduduk yang ikut menyaksikan kejadian itu terhenyak seolah tak percaya apa yang mereka lihat. Bukan itu saja, mereka semua berusaha mencari ke mana jenazah penuh lumuran darah itu. Tapi yang dicari tidak juga ditemukan. Jenazah Entong Gendut raib bagai ditelan bumi. Akhirnya pencarian pun dinyatakan selesai oleh pihak Belanda. Setelah itu aktifitas kembali berjalan seperti biasa, denyut pemberontakan tak lagi pernah terdengar di kampung Condet, yaitu penduduk yang berada dalam kungkungan intimidasi dengan terpaksa kembali menyetor upeti penghasilan pada pihak Belanda.

Daftar Pustaka
Sumber buku dan dokumen :
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 2008. Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV. Jakarta: Balai Pustaka
Berita Acara dibuat oleh Asisten Wedana Pasar Rebo, Meester Cornelis (R. Pringgodimedjo), 17 April 1916 (Arsip Nasional Republik Indonesia)
Laporan dari Asisten Residen Meester Cornelis (D. Heyting) tentang pemberontakan di tanah partikelir Tanjung Timur pada tanggal 9 dan 10 April 1916, 18 April 1916 (Arsip Nasional Republik Indonesia)

Sumber internet :
http://berdikarionline.com/sisi-lain/historia/20111103/entong-gendut-pendekar-pejuang-kaum-tani.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_perguruan_silat
http://silatindonesia.com/2008/09/entong-gendut-pendekar-condet/
http://tyoo-smansa.blogspot.com/2010/04/perlawanan-petani.html
http://ibnu-umar-junior.blogspot.com/2013/05/entong-gendut-pemuda-condet-pahlawan.html
[1] Berita acara dibuat oleh Asisten Wedana Pasar Rebo, Meester Cornelis (R.Pringgodimedjo), 17 April 1916
[2] Laporan dari Asisten Residen Meester Cornelis (D. Heyting) tentang pemberontakan di tanah partikelir Tanjung Timur pada tanggal 9 dan 10 April 1916, 18 April 1916

Wednesday, May 28, 2014

Ennichisai 2014, "It's Time To Jump!"



Majalahinspirasi.net-Untuk para pecinta semua hal yang berhubungan dengan negri sakura, kita tidak perlu jauh – jauh menempuh ribuan mil hanya untuk merasakan bagaimana suasana Matsuri (Festival) khas jepang ini. Ennichisai merupakan acara yang digelar setiap tahunnnya dan tahun ini Ennichisai kembali di gelar di kawasan yang di sebut “Little Tokyo” atau Blok M pada 24 -25 Mei 2014.


Ennichisai 2014 diorganisir oleh  Blok M Estate Management dan Ennichisai Blok M Team. Berbeda dengan tahun sebelumnya, kini Ennichisai mengangkat tema “It’s Time To Jump!”. Kentalnya kebudayaan Jepang dapat dirasakan pada saat memasuki area Little Tokyo Blok M. Pengunjung akan disambut dengan banyaknya lampion Jepang atau Chochin. Tak hanya itu, pengunjung juga akan dimanjakan dengan 150 booth makanan serta produk-produk Jepang yang unik. Pertunjukan seni tradisional seperti omikoshi, taiko dan tarian Jepang lainnya pun selalu menjadi suguhan menarik yang menghidupkan suasana.

Selain kesenian tradisional, pengunjung akan dihibur dengan serunya rangkaian acara Pop Culture Jepang. Para penggemar cosplay dapat menikmati babak penyisihan cosplay competition bertaraf nasional, CLAS:H. Serta pemilihan wakil Indonesia untuk World Cosplay Summit di acara Indonesia Cosplay Grand Prix.
Acara yang berlangsung selama 2 hari ini bukan hanya menyuguhkan tentang kebudayaan jepang tetapi juga menyuguhkan kebudaan betawi karna memang acara ini merupakan mix dari 2 kebudayaan yaitu Jepang dan Jakarta. Acara ini bertujuan untuk mempererat hubungan diplomatik kedua negara seperti yang di tuturkan oleh ketua Tokyo Ennichisai Blok M 2014 Nizarman Aminudin “ Acara ini bertujuan untuk memajukan salah satu kawasan Blok M sebagai salah satu kawasan strategis dan sentral di jakarta. Selain itu ini juga merupakan wujud kepedulian masyarakaat dan para expatriat jepang untuk membangun kerjasama International”.

Acara ini selalu dapat menarik minat pengunjung setiap tahunnnya. Pada tahun ini Ennichisai telah manarik 200.000 pengunjung selama 2 hari penyelenggaraaannya. Berbeda dengan tahun tahun sebelumnya tahun ini Ennichisai akan mengadakan Lomba Lari Estafet yang bekerja sama dengan Mainichi Shimbun dan KOMPAS. Lomba ini menunjukkan hubungan yang baik antara Indonesia dan Jepang secara simbolis, serta diharapkan dapat mempererat persahabatan para peserta. Ennichisai ditutup dengan acara Hanabi atau Pesta Kembang Api yang sangat meriah. (Humayra)

Monday, March 24, 2014

Pameran Internasional Membingkai Minahasa

Melalui Pameran Foto "Membingkai Minahasa", Fotografer Armando Loho alumni LPM Inspirasi BSI  menggali sisi-sisi lain secara kreatif Alam dan Masyarakat Minahasa. Pameran Foto ini juga merupakan media alternatif dan kreatif dalam memperkenalkan kepada publik yang lebih luas kekayaan alam dan kekayaan budaya Minahasa.

 Armando Loho menggali secara visual, melalui foto-foto yang ditata dengan tehnik fotografi mutakhir, sehingga alam Minahasa yang indah boleh ditampilkan serta dinikmati banyak orang.

Pameran Foto “Membingkai Minahasa” dilaksanakan pada 22 Maret - 3 April 2014  Galeri IFI Jakarta
Jl. Salemba Raya no 25, Jakarta secara gartis. Acara dibuka pada Ahad malam pukul 19.00 WIB dihadiri tokoh masyarakat minahasa dan berbagai pengunjung dari berbagai negara.  (inspirasi)

Friday, January 17, 2014

Mencontek Dijadikan Budaya (?)


Inspirasi - Tidak jauh-jauh dari akademisi tindakan ini selalu dilakukan oleh beberapa kalangan atau orang yang membuat kita terkarang jeram melihatnya. Mengintip kertas ujian orang lain atau membawa dokumen pribadi saat ujian berlangsung biasa disebut mencontek. Menurut Purwadarminta dalam Gicara mengartikan mencontek (atau juga sering disebut menyontek) adalah “Suatu kegiatan mencontoh/meniru/mengutip tulisan pekerjaan orang lain sebagaimana aslinya”. Wikipedia pun menambahkan cheating atau menyontek adalah suatu tindakan tidak jujur yang dilakukan secara sadar untuk menciptakan keuntungan yang mengabaikan prinsip keadilan.Mengapa mereka selalu melakukan tindakan yang jelas-jelas itu curang? Tindakan tersebut jelas tak pantas dilakukan oleh seseorang yang seharusnya berpendidikan selain itu tidakkah ia sadar bahwa yang ia lakukan membohongi orang lain dan tidak yakin akan kemampuan diri sendiri? 

Untuk ruang lingkup kampus Bina Sarana Informatika sendiri, jika kita cermati secara detail untuk mengatasi hal-hal yang seperti ini lembaga mempunyai beberapa solusi yang sadar atau tidak sadar sudah diterapkan,  

Dengan di berlakukannya ujian online, soal yang diacak dan setiap mahasiswa mendapatkan soal yang berbeda-beda. 

Mahasiswa diharuskan untuk duduk berjauh-jauhan, hal ini diharapkan agar tidak ada mahasiswa yang saling mencontek atau bertanya satu dengan yang lain. 

Handphone atau Smartphone tidak dinyalakan saat proses ujian berlangsung, hal itu dapat memungkinkan mahasiswa dapat berkomunikasi via SMS atau social media yang berujung pada tindakan saling menyontek.

Untuk point ke-3 menurut pantauan pribadi, ini belum sepenuhnya berlaku hanya pengawas yang tegas yang selalu mengingatkan para peserta ujian untuk tidak memegang atau mengaktifkan handphone, dan himbauan tersebut disampaikan 5 menit sebelum ujian dimulai. Kurangnya pengawasan dan tidakan yang tegas membuat mahasiswa melakukan tindakan-tidakan yang termasuk larangan pada peraturan ujian.”Mendingan kecil hasil sendiri, daripada bagus tapi hasil menyontek.” Ujar Rospina mahasiswa jurusan KA.

Cara-cara yang dilakukan lembaga untuk mengurangi budaya mencontek memang sangat diharapkan mampu meminimalkan hal tersebut. Dimulai dari kesadaran diri kita sendiri bahwa nilai yang kita hasilkan lebih baik murni dari pada akhirnya membuat diri kita dosa dan menjadikan diri kita tidak percaya akan kemampuan sendiri. (TA)

Wednesday, January 1, 2014

Pameran Budaya dalam Internasional Kite Festival 2013



Inspirasi-Budaya adalah salah satu senjata pamungkas untuk mengenalkan Indonesia kepada dunia.seperti budaya dari tanah betawi yang bernama tari "Renggong Manis". Dengan gerakan yang manis dan warna warni yang manis tentu akan memikat hati bagi yang menyaksikannya. Pada acara pembukaan "International kite festival 2013" yang diadakan pada akhir November kemarin di Monas, tarian "Renggong Manis" menjadi tarian penyambut para tamu yang datang. Sepanjang tarian ini berlangsung berhasil memikat dan membuat mata para pengunjung untuk tidak berkedip menyaksikan gerakan dari tarian "Renggong Manis" ditambah lagi dengan para penari yang juga manis-manis.

Kebudayaan memang sangat potensial untuk menarik perhatian para wisatawan. Tapi apakah budaya yang sangat bernilai jual ini digunakan hanya untuk menarik para wisatawan. Alangkah baiknya jika budaya yang bernilai pembelajaran lain seperti petuah, pepatah pesan-pesan dari orang tua terdahulu juga ikut di berdayakan tentu akan membuat generasi muda akan memahami pesan-pesan penting dibalik kebudayaan tersebut yang akan mencetak generasi muda yang berakhlak dan berbudi. *(7131)

Friday, January 25, 2013

Usia Boleh Senja Tapi Semangat Selalu Muda

Usia senja tak menghalangi siapapun untuk tetap bersemangat menjalani hidup. Itulah yang Inspirasi tangkap saat menghampiri kegiatan ibu-ibu lansia yang terletak diseberang jalan Pojok Benteng Kulon, Jogjakarta sore itu.

Jogja.. jogja...
Jogja tetap istimewa...
Di iringi lirik dari lagu diatas sekelompok ibu-ibu nampak asyik meliuk-liukan tubuhnya mengikuti irama musik yang diputar di ruangan itu. Hap.. hap.. hap.. ayunan tangan, gerakan kaki dan ekspresi nampak kompak dan senada. Rupanya para ibu tersebut kerap kali melakukan latihan rutin tiap jumat sore. "Selain untuk mengisi waktu luang kegiatan ini juga bertujuan untuk mempersiapkan mereka dalam menyambut event besat bertema "Senam Sehat Indonesia" (SSI) se-Indonesia yang akan berlangsung pada 8 Juni 2013 mendatang dan Jogja sebagai tuan rumahnya", Ungkap Ibu Nurjanah Instruktur senam tari sore itu.

Wanita paruh baya ini merupakan ketua senam merangkap sebagai pengurus FORMI (Feredasi Olahraga Masyrakat Inti) Daerah Istimewa Yogyakarta. Beliau sudah hampir 6 tahun berkecimpung mengabdikaan dirinya di FORMI. "Saya sangat suka olahraga, karena dengan berolahraga tubuh kita akan slalu sehat. Saya sering mengajarkan ibu-ibu disini mulai dari aerobic lansia, senam diabet, senam asma, senam jantung, senam sehat sampai senam pendidikan SKJ 2010". tutur Ibu Nurjanah pada kami.


Ibu Nurjanah biasa mengajar di sekitar jogja, kalau saat ini beliau rutin mengajar di Jl. Pugeran RT 01/RW O1 dan mayoritas diikuti oleh ibu-ibu lansia". Saya berharap supaya warga memiliki rasa kekeluargaan yang lebih erat lagi satu dengan yang lainnya dan selalu sehat". "Oleh karena sehat itu tidak segala-galanya, karena segala-galanya tidak dapat dinikmati tanpa kesehatan". Semoga kita semua terutama generasi muda dapat lebih mencintai olahraga", tutup ibu yang kini berusia 70 tahun itu. (Juliana Priscilla Dewi)

Tuesday, November 27, 2012

Paradiso Yogyakarta


Inspirasi – Perjalanan di kota Gudeg, dengan segala keeksotisan tempat-tempat wisata menjadi surga tersendiri untuk para pencari objek gambar. Untuk sekelas Bag packer dengan tiket kereta Progo dari Stasiun Senen, Jakarta menuju Lempuyangan, Yogyakarta seharga Rp.35.000,- kita bisa menikmati dan memulai perjalanan di negara dependen yang berbentuk Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini dikenal dengan provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kota ini memiliki batas utara Tugu Yogyakarta, timur sungai Code, selatan Panggung Krapyak, dan barat sungai Winongo. Dari Lempuyangan, terus berjalan kearah barat melewati kali Code yang merupakan hulu aliran lahar dingin dari Gunung Merapi saat meletusnya, kami menuju Jl. Malioboro;  Malioboro adalah tempat perkumpulan para pedagang kaki lima yang  dibuat sedemikian rupa menjadi tempat wisatawan turis dan mancanegara memanjakan matanya untuk menikmati barang jualan para pedagang sepanjang kira-kira 3 KM di pusat kota.

Mbah Suparti seorang penjual gudeg telah berjualan selama 40 tahun di depan Hotel Mutiara, Malioboro. Berusia sekitar 60 tahun memiliki cucu sebanyak 20 orang dari 3 anak lelakinya adalah seorang keturunan asli Kota Yogjakarta. “Buka di internet, ndo. Gudeg depan hotel disitu ada harga-harganya”, ungkap Mbah dengan senyum sumringahnya sambil melayani para pembeli. Makanan berbahan dasar nangka yang diolah bersama gula merah dan didiamkan selama satu hari satu malam, disajikan juga dengan krecek (krupuk kulit) yang diolah dengan bumbu khasnya. Makanan ini banyak dijajakan sepanjang jalan Malioboro dengan bakul nasi penjualnya.

Seorang nenek usia 72 tahun bernama Mbah Harjo Perwiro, yang berjualan buah di pinggir jalan. “Mbah maunya kerja terus, ndak mau nyusahain”, ungkap Mbah pemilik 3 orang anak dan 7 orang cicit. “Ndak dingin, dan sudah terbiasa,” jelas Mbah yang bertempat tinggal di Gamping dan kembali 3 hari sekali kerumahnya dan memilih tidur di emperan jalan. Sudah selama 20 tahun menjadi penjual buah di kawasan Malioboro.

Penjual wayang yang sudah bergelut selama 32 tahun juga nampak sangat menikmati pekerjaannya. Wayang yang terbuat dari kulit dan kayu berjejer rapi disusunnya untuk dijajakan beserta miniature otomotif (becak dan sepeda ontel). Biasanya Pakde Wongso (40tahun) mampu menerima pesanan baik dalam jumlah kecil maupun skala besar untuk pemesanan pembuatan wayang, bahkan sangat tidak keberatan jika ada yang berminat untuk menjadi supplier untuk bisnis wayangnya.

Makanan pinggir jalan yang paling khas di kota Yogjakarta adalah Sega kucing (nasi kucing) yang juga kini banyak ditemukan di Jakarta. Menyediakan nasi yang dibungkus berukuran kecil dengan goreng-gorengan dan aneka minuman hangat yang disajikan adalah pilihan paling pas dengan harga yang sangat terjangkau. Penambah aroma sedapnya berasal dari arang sebagai bahan pembakar dan pemanas air yang dimasak di dalam cerek.  

Selain sega kucing, Ronde makanan hangat jajanan pinggir jalan adalah menu yang diandalkan saat dinginnya kota Yogjakarta menyelimuti. Makanan yang bebahan dasar ketan dibuat bulat kecil-kecil yang brisi  gula merah yang ditambahkan dengan wedang jahe, roti, kacang tanah, kolang-kaling. Andi, 27 tahun sudah selama 2 tahun berdagang ronde dengan modal sendiri, setelah sebelumnya ikut berdagang bersama bosnya. “Susahnya paling kalo lagi ada satpol PP, berjualan di pinggir barat karena disitu trotoar untuk pejalan kaki. Biasanya disini untuk parkir jadi penuh motor.” Pria asli Magelang ini  menuturkan.

Turut melengkapi keramaian Malioboro juga, kang Jejen seorang penjual gulali asal Garut, Jawa Barat turut menjajakan dagangannya. Berbekal keahlian yang didapatnya dari kursus kepada seorang temannya untuk merancang gulali menjadi bentuk yang unik berupa bunga dan bentuk-bentuk lainnya, Kang Jejen kini juga tengah menetap di daerah Yogjakarta bersama keluarga kecilnya yang dibangun sejak tahun 2009 lalu.

Kegiatan ekonomi jual-beli segala aneka jajanan dan barang jualan para pedagang yang memulai aktifitasnya sejak pagi-pagi buta setiap harinya di Pasar Beringharjo yang juga menjadi bagian dari Jl.Malioboro. Pasar Beringharjo mempunyai makna filosofis karena juga merupakan salah satu pilar ‘Catur Tunggal’ (terdiri dari Kraton, Alun-alun Lor (utara), dan Pasar Beringharjo) yang melambangkan fungsi ekonomi sebagai satu tahapan pemenuhan kebutuhan kehidupan masyarakat.

Terus berjalan kita akan melewati benteng Vredeburg, benteng yang dibangun Belanda pada tahun 1765 dan memiliki menara pengawas di keempat sudutnya dan kubu untuk tentara Belanda berkeliling-keliling. Menggambarkan diorama perjuangan bangsa Indonesia sebelum meraih kemerdekaannya. Terdapat juga Monumen Serangan 1 Maret 1949 di Yogakarta, Gedung Bank Indonesia, dan Gedung Pos Indonesia, serta Gedung BNI disekitar daerah 0 KM.

Tim Inspirasi juga mengunjungi Kraton Yogyakarta, tempat yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal raja namun juga menjadi penjaga nyala kebudayaan Jawa.Bangunan yang sudah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu namak masih kokoh berdiri dan nampak asri serta terawat dengan baik. Kraton memiliki garis imajiner yang menghubungkan Pantai Parangtritis dan Gunung Merapi disini kita dapat menyaksikan aktivitas abdi dalam yang sedang melakukan tugasnya atau melihat koleksi barang-barang Kraton. Berjalan kea rah Selatan, menyusuri daerah di belakang kompleks Kraton ada Alun-Alun Kidul atau yang biasa disingkat Alkid, tempat yang disimbolkan dengan gajah yang memiliki watak tenang. Mencoba atraksi yang dinamakan Masangin, yaitu melewati jalan antara dua beringin yang ada di tengah alun-alun dengan mata ditutup kain hitam. Konon, jika orang mampu melewatinya dan tak serong dan menabrak makan akan dapatkan keberkahan dan keinginannya tercapai.

Masih banyak lagi objek wisata dan tempat-tempat menarik di Yogyakarta, dari setiap sudutnya  selalu menarik, tatanan yang begitu apik dengan keramahan dan kesopanan dari masyarakat sekitar bahkan hingga kepada para tukang becak yang menawarkan jasanya untuk mengantarkan turis lokal maupun mancanegara berkeliling di Yogyakarta. Selalu ada kesan, selalu ada kisah, selalu ada banyak hal untuk dibagikan untuk menjadi inspirasi.Paradiso Yogyakarta, Surganya wisata. (DZ)

Comments System

Disqus Shortname